Saat ini, kebutuhan minyak nabati dunia kian meningkat. Yang termasuk ke dalam minyak nabati utama adalah minyak sawit (crude palm oil/ CPO), minyak kedelai (soya bean oil), minyak rapeseed, minyak biji kapas, minyak biji bunga matahari, serta minyak kacang.

Ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia sepanjang tahun lalu telah mencapai 31,05 juta ton dengan nilai US$ 22,97 miliar (Rp 310 triliun). Pada tahun 2018 ini, para pelaku industri optimis volume ekspor dapat meningkat 10% menjadi 34,15 juta ton.

Diberitakan sebelumnya, pertumbuhan ekspor pada tahun 2018 ini diyakini didorong oleh sentimen positif dari pertumbuhan ekonomi global yang menggerek harga. Selain itu, bertambahnya permintaan dari negara-negara tujuan ekspor juga menambah cerah prospek masa depan.

Togar Sitanggang selaku Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mengemukakan, prediksi kenaikan nilai ekspor sebesar 10% ini bisa meningkat lebih tinggi apabila produksi minyak nabati lain seperti kedelai (soya bean oil) melemah.

Menurutnya, sasaran ekspor untuk 2018 masih didominasi oleh pasar tradisional.

“Tentu China, India, Eropa, Bangladesh, Pakistan dan Amerika Serikat masih 6 besar. Tapi kami coba lebih serius menggarap pasar baru,” ujarnya.

Sebagai contoh, Togar menyebutkan, pengusaha sawit kini melirik Timur Tengah, Afrika dan Turki yang telah menjadi importir bagi kelapa sawit dari Indonesia.

Guna memperdalam pasar, dia mengungkapkan sejumlah perusahaan bahkan telah dalam proses penjajakan untuk melakukan investasi di negara dan kawasan tersebut.

Dari sisi produksi, Togar berujar perkiraan iklim tahun ini masih kondusif bagi pertumbuhan produktivitas kelapa sawit. Menurutnya, tantangan terbesar justru pada tahun depan karena La Nina diperkirakan akan menerjang.

Pada kesempatan itu, Togar mengemukakan pasar domestik tetap menarik lantaran mulai 2018 akan ada gelaran Pilkada serentak di 117 daerah. Hal ini, menurutnya, diharapkan bisa mengerek konsumsi masyarakat berbasis kelapa sawit.

“Kami harap konsumsi minyak sawit dari domestik bisa naik minimal 5% lah, karena pertumbuhan penduduk dan ada pilkada. Kalau pilkada, ada kampanye, dan pembelian makanan dan minuman akan meningkat.”

Seperti diketahui, salah satu produk turunan dari kelapa sawit adalah beberapa produk makanan dan minuman seperti yang bahan utamanya disuplai dari PT. Triputra Agro Persada. Perusahaan yang berbasis di Jakarta Selatan ini diketahui memproduksi minyak mentah kelapa sawit, palm kernel oil, tandan buah segar (TBS/ fresh fruit bunch/ FFB) serta slab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *