Produk kelapa sawit Indonesia terkena kampanye hitam di Eropa. Beberapa negara di Eropa membuat kebijakan melarang penggunaan produk dari bahan sawit karena dianggap dihasilkan dari perusakan hutan.

Seperti dilansir dari Detik Finance, guna merespons situasi ini, Presiden Joko Widodo mengutus Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan untuk membereskan masalah tersebut. Luhut sendiri menjelaskan bahwa terpilihnya dia sebagai special envoy adalah karena biodiesel berada di bawah pengawasannya sehingga ia pun terpilih untuk meredakan isu CPO ini.

Selain bertemu dengan Uni Eropa, Menko Maritim juga akan membahas masalah sawit dengan pemerintah 5 negara Eropa. Mulai dari Inggris, Jerman, Belanda, Prancis, dan Belgia.

Salah satu misi penting dari kunjungan Luhut sebagai utusan khusus Presiden RI ke Eropa adalah jangan sampai arus dagang produk kelapa sawit asal Indonesia ke Benua Biru itu terganggu. Terkait urusan kelapa sawit tersebut, Menko Luhut dan rombongan juga melobi sejumlah pejabat tinggi dan anggota Parlemen Uni Eropa di Brussels, Belgia.

Dilansir dari Viva, Menko Luhut pekan ini berada di Brussels selama dua hari yaitu pada 14 dan 15 Mei 2018 mendatang. Lobi Indonesia ini penting karena akan ada trialog antara Parlemen Eropa, Dewan Eropa dan Komisi Eropa. Yang menjadi tema utama dalam trialog ini adalah energi terbarukan, dan kebijakan terhadap biofuel berbahan minyak sawit, termasuk asal Indonesia.

Dalam Trialog ini, Menko Luhut didampingi Duta Besar RI untuk Belgia dan Uni Eropa, Yuri Thamrin, dan Dubes RI untuk Republik Federal Jerman, Arif Havas Oegroseno. Mereka pun melakukan hearing dengan anggota Parlemen Eropa, Sean Kelly.

Kepada Viva, Sean Kelly menegaskan bahwa Komisi Eropa ingin mengurangi penggunaan kelapa sawit dan turunannya dalam biofuel secara umum. Namun, dia mengakui beberapa komisi memang ingin menerapkan larangan. “Pada akhirnya bukan larangan, namun pengurangan,” katanya pada 26 April 2018 yang lalu.

Kelly juga menambahkan bahwa tidak akan ada larangan atau banned terhadap CPO. Alasannya, bila itu terjadi mereka melakukan diskriminasi terhadap Indonesia. Karena menurutnya, jika demikian hal tersebut tidak sesuai dengan WTO dan Eropa tidak dapat melakukan hal itu. Dengan alasan tersebut, mereka akan mengadakan trialog. Kelly menilai, hasilnya tidak akan berdampak buruk seperti yang dikhawatirkan pihak Indonesia saat ini.

Pemanfaatan CPO sebagai biodiesel memang membangkitkan industri sawit dalam negeri. Pada tahun 2013 lalu, salah satu perusahaan penghasil CPO terbesar Indonesia, PT Triputra Agro Persada menargetkan produksi sebesar 350.000-400.000 ton. Tahun sebelumnya, produksi CPO Triputra memang baru mencapai 281.000 ton. Pada 2012, Triputra Grup menghasilkan 843.300 ton tandan buah segar (TBS) dari kebun sendiri. Sementara pasokan TBS Triputra Grup dari pihak ketiga dan kebun plasma 378.200 ton.

“Tiap tahun kita targetkan kenaikan produksi CPO 25% sampai 30%,” tutur Arif Rachmat, CEO Triputra Agro Persada pada Kontan.

Tidak hanya menggenjot produksi, Triputra Grup juga terus memperlebar areal kebun sawit yang tertanam. Setiap tahun, manajemen kelompok usaha ini menambah 15.000 ha lahan baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *