Indonesia terkenal dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda tetapi satu juga. Namun, dewasa ini ada saja pihak-pihak yang memanfaatkan kebohongan untuk memecah kebhinekaan Indonesia untuk kepentingan pribadi, bahkan golongan. Padahal inilah kekuatan utama yang dimiliki Indonesia.

Bagi PT Triputra Agro Persada Group, keragaman merupakan salah satu kekuatan yang dimiliki oleh mereka. Hal tersebut disampaikan langsung oleh CEO, Arif Rachmat, di hadapan ratusan siswa SMA 1 Teladan Yogyakarta dalam acara Kelas Inspirasi, Menyemai Semangat Kewirausahaan SMA 1 di Jl. HOS Cokroaminoto, Yogyakarta, pada 2017 silam.

Kurang lebih selama 12 tahun menggeluti bisnis kelapa sawit baik di Sumatera Utara dan Kalimantan dia berhasil membangun komunikasi dengan para karyawan yang tentunya berjumlah hingga ribuan. Dan salah satu pelajaran yang berhasil ia ambil bersama ribuan karyawannya itu adalah belajar keragaman. Keragaman itu terlihat dari para pekerja yang berasal dari berbagai daerah dan suku di Indonesia. Seperti dilansir dari halaman Detik Finance, Arif mengatakan keragaman menjadi kekuatan tersendiri di perusahaan tersebut.

“Bhinneka Tunggal Ika. Ada yang dari Medan, suku Batak, Nusa Tenggara Timur, Trenggalek Jawa Timur dan lain-lain. Mereka datang membawa anggota keluarganya dan membangun rumah di sana. Mereka hidup bersama, saling melengkapi dan itu menjadi kekuatan perusahaan kami,” katanya.

Bagi Arif, tinggal selama kurang lebih 15 tahun di Amerika bukan berarti ia melupakan tanah air. Rasa rindu tanah air pun membulatkan tekadnya untuk kembali ke Indonesia dan hal tersebut terwujud pada tahun 2005. Bahkan dalam hati kecilnya, Arif bertekad untuk berbuat sesuatu untuk Indonesia. Arif kemudian memilih untuk mengembangkan industri agrikultur, salah satu dari empat bidang yang menjadi lini usaha perusahaan PT Triputra Agro Persada selain pertambangan, manufaktur dan perdagangan. Salah satu yang menjadi sorotan Arif adalah kelapa sawit.

Arif menambahkan, dalam menjalankan suatu perusahaan ada ungkapan ‘business first, family second atau dalam bahasa Indonesia berarti urusan bisnis adalah yang pertama, sementara keluarga yang kedua. Maksudnya adalah jika perusahaan hanya memikirkan keuntungan yang kemudian langsung diambil untuk kebutuhan keluarga.

“Kalau seperti itu perusahaan akan gagal, karena keuntungan langsung diambil untuk keluarga atau memperkaya diri. Perusahaan harus bisa memberikan lapangan kerja bagi masyarakat sehingga bisa mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *