Semakin melemahnya pasar ekspor biofuel membuat pemerintah harus memutar otak untuk tetap menghasilkan pemasukan dan tetap menjadikan Kelapa Sawit sebagai komoditas unggulan. Salah satunya adalah dengan memperkuat pasar domestik ditengah lesunya pasar ekspor eropa yang tengah diperdebatkan mengenai resolusi Parlemen Uni Eropa. Salah satu langkah strategisnya yakni dengan menginisiasi bahan bakar untuk pesawat berbahan dasar kelapa sawit.

Pengembangan bahan bakar alternatif tersebut ditandai dengan kerja sama antara Lion Air Group dengan Gabungan Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI). Perjanjian tersebut memnandari persiapan bahan bakar alternatif bagi pesawat terbang. Selain itu perjanjian tersebut berlandaskan pula pada potensi sumber daya alam berupa kelapa sawit yang cukup besar di Indonesia.

“Sekarang sudah terwujud biodiesel, kenapa kita tidak bikin juga bioavtur? Itu sangat mungkin, kami akan coba pelajari,” kata President and CEO Lion Air Group Edward Sirait usai penandatanganan kerja sama di Grand Hyatt, Jakarta Pusat, Selasa (10/4). Edward berpandangan, pihaknya sudah sejak lama memikirkan bagaimana industri penerbangan bisa memanfaatkan sepenuhnya sumber daya dari dalam negeri. Terlebih, industri penerbangan sangat bergantung pada bahan bakar, di mana naik turunnya harga avtur sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal dari luar negeri.

Joko Supriyono selaku Ketua Umum GAPKI pun memastikan kerja sama antara GAPKI dengan Lion Air Group sebagai momen untuk meneruskan riset mengenai Crude Palm Oil (CPO) atau minyak kelapa sawit sebagai bahan bakar yang setara dengan avtur. Hal tersebut pun sedianya telah digunakan beberapa pesawat Airbus yang dioperasikan di Eropa.

“Sebetulnya untuk CPO sudah digunakan pesawat Airbus di Eropa. Jadi, kenapa kita tidak mengembangkan sendiri?” tutur Joko.

Langkah tersebut menyusul sejumlah isu yang tengah berkembang cukup panas lantaran beberapa Negara Eropa tengah membatasi ekspor CPO yang berasal dari Indonesia karena dinilai industri perkebunan kelapa sawit adalah salah satu penyebab deforestasi terbesar serta melakukan pembiaran terhadap pekerja dibawah umur. Bahkan imbasnya negara tetangga, Malaysia pun sama-sama mengalami pembatasan ekspor oleh sejumlah negara anggota Uni Eropa.

Melalui perjanjian kerja sama ini akan ditindak lanjuti berupa pembicaraan tentang pendanaan dan pembagian peran antara Lion Air Group dengan GAPKI. Dengan adanya riset ini diharapkan mampu menghasilkan bahak bakar alternatif yang memberikan imbas cukup besar bagi Lion Air Group lantaran korporasi tersebut terus menambah armadanya dari tahun ke tahun. Imbas lainnya tentu saja perusahaan perusahaan perkebunan kelapa sawit seperti PT Triputra Agro Persada yang salah satu produk kelapa sawitnya berupa CPO akan terkena dampak positif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *