Berbicara mengenai perkebunan kelapa sawit di Indonesia, setiap tahunnya mengalami peningkatan yang cukup baik, dilihat dari segi kuantitas maupun kualitas. Serikat Petani Sawit pada tahun 2016 telah menggelar acara forum untuk mendukung perkebunan swadaya yang terbesar di seluruh pelosok Indonesia dengan nama Sawit Challenge 2016.

Intinya, ajang ini mendorong inovasi-inovasi yang bisa diterapkan seputar pengolahan kepala sawit di Indonesia. Hal yang sebenarnya selalu dijalankan oleh perusahaan kelapa sawit mapan seperti PT Triputra Agro Persana di bawah naungan Arif Rachmat selaku CEO.

“Petani swadaya memerlukan dukungan forum yang memampukan mereka dalam menghadapi tantangan yang mereka hadapi melalui inovasi-inovasi yang mereka butuhkan untuk membantu mereka meningkatkan praktik-praktik keberlanjutan,” ungkap Ketua Serikat Petani Kelapa Sawit, Mansuestus Darto.

Setidaknya ada lebih dari 70 proposal menawarkan resolusi terkait permasalahan kelapa sawit tanah air. Selanjutnya 9 proposal dipilih untuk selanjutnya diundang untuk menjelaskan gagasan-gagasan di depan tokoh bisnis, konservasi hutan, pembangunan internasional, dan pemerintah di Jakarta.

Berikut adalah beberapa solusi yang ditawarkan :

Menyediakan Insentif Keuangan Bagi Petani Swadaya Untuk Bertani Kelapa Sawit dengan Praktik Ramah Lingkungan

Salah satu permasalahan paling umum yang sering di alami oleh petani kelapa sawit adalah menyoal pendanaan. Kondisi seperti ini lah yang semakin mempersulit peran petani swadaya untuk selangkah lebih maju mengembangkan bisnis kelapa sawit.

Permasalahan ini lah yang dimanfaatkan oleh Stanford University (Amerika Serikat) dan konsorsium yang terdiri dari Bentang Alam (Indonesia), Forest Carbon (Indonesia), SNV (Belanda), Financial Access (Belanda), dan Akvo (Belanda) untuk dirubah menjadi peluang penanganan masalah. Salah satu solusinya yakni dengan memberikan pembiayaan terjangkau dan tepat waktu. Stanford Univerity sendiri mengajukan gagasan 10% harga premium untuk petani swadaya yang mematuhi setandarisasi keberlanjutan (sustainability) dan membebankan sebagian kecil biaya kepada pembeli.

Mengurangi Penggunaan Herbisida Berbahaya

Isu pencemaran lingkungan utamanya dari perkebunan kelapa sawit belakangan ini semakin mengemuka. Terlebih tak dapat dihindari pula penggunaan pestisida dan herbisida untuk perawatan kelapa sawit. Penggunaan bahan-bahan ini lah yang justri disebut-sebut memberikan dampak negatif bagi lingkungan serta dampak kesehatan bagi penggunanya jika dilakukan secara rutin.

Solusi nya pun telah diajukan oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) dengan menawarkan benih kelapa sawit berkualitas tinggi dan pendampingan teknis bagi petani swadaya untuk meningkatkan produksi tanpa bergantung secara berlebihan pada herbisida berbahaya.

 

 

Memanfaatkan Teknologi Mobile

Salah satu solusi yang terbilang cukup menarik adalah dengan menghadirkan teknologi mobile. Petani swadaya yang rata-rata terletak di lokasi terpencil sering kali terlambat menerima informasi pasar sekalipun mereka memiliki ponsel. EcoHub Global dari Singapura telah merancang platform gratis bagi petani untuk mengakses informasi harga secara realtime, menghubungkan petani dengan pembeli, pabrik, hingga koperasi. Selain itu, platform ini juga menyediakan informasi praktik-praktik pertanian yang baik.

Inovasi perkebunan kelapa sawit belakangan ini memang menjadi hal yang sangat lumrah, baik bagi perkebunan swadaya maupun perkebunan korporasi. Salah satunya adalah penggunaan drone untuk memantau proses pemupukan. Hal ini pun telah di lakukan oleh PT Triputra Agro Persada dengan memanfaatkan drone sebagai media untuk memantau lapangan secara langsung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *