Agar dapat menghasilkan keuntungan yang setinggi-tingginya sesuai target, mulai awal 2018 PT Triputra Agro Persada (TAP) telah menyiapkan sejumlah taktik. Kondisi ini dipacu oleh pencapaian yield atau keuntungan tahun 2017 yang melampaui target. Perusahaan ini merupakan salah satu unit dari Triputra Group yang fokus di bidang perkebunan kelapa sawit dan karet berskala nasional.

menurut Swa.co.id, usia tanam kelapa sawit membutuhkan waktu 3 tahun agar hasilnya dapat dirasakan di 2021 mendatang. Selain penanaman kembali atau replanting, perusahaan yang dikelola oleh CEO Arif Rachmat ini juga tengah mendongkrak infrastruktur perkebunan berupa jalan dan perumahan di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah untuk pengembangan SDM perusahaan.

Sebagai bentuk kepedulian dan ramah lingkungan, perusahaan ini juga menyelenggarakan pelatihan masyarakat untuk mengantisipasi kebakaran lahan seperti yang sering terjadi sebelumnya. Menurut CEO perusahaan, mereka mengadakan kerjasama yang dilakukan dengan Kementerian Pertanian dan Kementerian Lingkungan Hidup.

“Kami berikan pelatihan agar rakyat tidak melakukan pembakaran saat membuka lahan,” ujarnya.

Arif menambahkan, perkembangan kelapa sawit di tahun 2018 cukup baik. Kelapa sawit menjadi Top 10 basis devisa untuk Indonesia. Meski begitu, perusahaan tetap menjaga efisiensi biaya dan sustainability agar keuntungan lebih baik atau setidaknya sama seperti tahun 2017.

“Jadi kalau di kami, TAP, Key Performance Index memiliki tiga indikator yaitu yield, cost dan sustainability. Sehingga sustainability TAP antara lain safety, enviromental, comodity, dan social,” bebernya.

Yield yang tinggi berusaha diwujudkan sehingga otomatis biaya  yang dikeluarkan menjadi lebih rendah nilainya. Selain itu, mereka juga menerapkan mekanisasi konsumsi bahan bakar seperti solar agar lebih efisien, produktivitas SDM yang ditingkatkan, serta intensifikasi lahan, sehingga produksinya dapat naik. Intensifikasi lahan menjadi concern perusahaan dengan menggarap tanah yang telah ada agar dikerjakan lebih intens selain untuk meningkatkan produktivitas.

Bantuan digitalisasi pada pendeteksian buah sawit juga dilakukan guna menghindari kerugian  yang signifikan dengan beberapa teknologi seperti sophisticated censors camera, drone, smartphone, dan barcoding system.  TAP juga melakukan intensifikasi di lahan-lahan petani swadaya dengan cara pendampingan, akses modal, bibit, dan lainnya.

“Mulai 2018, kami fokus menggandeng petani-petani kelapa sawit dan karet swadaya. Tujuannya untuk diintensifikasi kebun dengan cara pendampingan dan membuka akses ke pembiayaan dengan kelapa sawit sebagai penjamin supaya mendapatkan akses modal dari bank,” ujar Arif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *