Dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya di Indonesia, Sumatera memiliki luas lahan Perkebunan Rakyat (PR) yang paling besar. Luas lahan perkebunan kelapa sawit milik rakyat ini, mencapai 3.526.582 hektar. Selanjutnya perkebunan kelapa sawit di pulau Kalimantan seluas 837.615 hektar, pulau Sulawesi dengan luas lahan 175.059 hektar, pulau Maluku dan Papua dengan luas 28.367 hektar, serta pulau Jawa seluas 7.478 hektar, juga dimiliki rakyat. Demikian dikutip dari laman InfoSawit.com, Senin (30/4).

Sayangnya, Perkebunan Besar Negara (PBN) yang bermula dari jaman penjajahan di pulau Sumatera, kurang mengalami pertumbuhan signifikan. Dengan luasan lahan perkebunan 555.203 hektar, PBN seringkali mengalami dilema besar sebagai perusahaan milik negara. Keberadaannya, seringkali mengalami distorsi secara politik dan tekanan dari masyarakat yang bermukim di sekitar perkebunannya.

Keberadaan Perkebunan Besar Swasta (PBS) juga mengalami pertumbuhan sepesat perkebunan milik rakyat. Dengan luasan lahan perkebunan mencapai 3.057.275 hektar, maka perkebunan kelapa sawit milik swasta ini juga sangat berpengaruh terhadap pengembangan perkebunan kelapa sawit yang sudah lebih dari 100 tahun berkembang di pulau Sumatera.

Sumatera juga dikenal luas akan keberadaan perusahaan-perusahaan tua perkebunan yang sudah berdiri sejak jaman penjajahan Belanda. Sebut saja PP London Sumatra, yang sudah diakusisi grup Salim baru-baru ini. Atau PT Triputra Agro Persada Group (TAP) yang dikelola oleh Arif Rachmat. Dengan demikian, wajar adanya jika keberadaan perkebunan kelapa sawit berandil besar terhadap pembangunan daerah, seperti penyediaan lapangan kerja, peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat luas.

Berdasarkan data dari Perusahaan Perkebunan (PP) London Sumatra yang memiliki kode emiten LSIP baru-baru ini, perusahaan memiliki lahan seluas 114.206 hektar, dimana sebesar 82% ditanami kelapa sawit, 15% pohon karet dan sisanya 3% untuk tanaman lainnya. Emiten LSIP ini, juga melaporkan pertumbuhan lahan produktif yang menghasilkan seluas 3.128 hektar, sehingga memperkuat basis lahan menguntungkan yang mampu menghasilkan CPO hingga meluas sebesar 81.769 hektar.

Pulau Sumatera juga turut melahirkan perusahaan perkebunan yang dimiliki pengusaha nasional, sebut saja Salim, Eka Tjipta, Sukanto Tanoto hingga Martua Sitorus yang memiliki perkebunan kelapa sawit besar di dalam grup perusahaannya hingga dewasa ini.

Berawal dari tuntutan konsumen global yang menginginkan ketersediaan minyak sawit untuk menyuplai kebutuhan pasar dunia. Kini, Indonesia menjadi sebuah negara kepulauan yang mampu terintegrasi menjadi satu melalui perkebunan kelapa sawit nasional. Keberadaan perkebunan kelapa sawit yang hampir selalu berada di pulau-pulau besarnya menjadi salah satu daya perekatnya.

Potensi hasil produksi crude palm oil (CPO) sangat besar jika digunakan sebagai bahan baku untuk menghasilkan produk-produk minyak makanan dan non makanan yang berkualitas tinggi. Produk yang sudah dikenal masyarakat luas ini juga menyehatkan dan ramah lingkungan, sehingga aman untuk dikonsumsi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *